NADIKABAR.COM — Perdebatan pangan di Indonesia hampir selalu berujung pada angka: berapa juta ton beras diproduksi, berapa luas panen, berapa stok tersedia, atau seberapa tinggi produktivitas petani. Kita bicara benih unggul, pupuk, mekanisasi, irigasi, hingga pertanian presisi. Semua penting. Namun, ada satu dimensi yang kadang luput: bagaimana memastikan kemampuan menghasilkan pangan tetap bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Untuk melihat dimensi itu, kita bisa belajar dari masyarakat Baduy di Pegunungan Kendeng, Banten. Bagi masyarakat Baduy, bertani bukan semata kegiatan ekonomi. Pangan menyatu dengan tanah, hutan, air, adat, dan kehidupan komunitas. Padi ditanam di huma atau pertanian lahan kering, berdampingan dengan pisang, talas, jagung, cabai, umbi-umbian, jahe, pepohonan, serta tanaman lainnya.

Pertanian mereka mengandalkan hujan dan kesuburan alami tanah dengan penggunaan input eksternal yang relatif rendah. Pola ini tentu berbeda dengan pertanian intensif modern yang mengejar produktivitas tinggi. Tetapi justru dari perbedaan tersebut muncul pelajaran penting tentang keberlanjutan.

Padi yang dipanen tidak seluruhnya diperlakukan sebagai komoditas untuk segera dijual. Sebagiannya disimpan dalam leuit, lumbung tradisional yang mempunyai posisi penting dalam kehidupan masyarakat Baduy. Gabah menjadi persediaan keluarga, cadangan menghadapi masa sulit, sekaligus sumber benih untuk musim tanam berikutnya.

Dalam terminologi pangan hari ini, leuit dapat dipahami sekaligus sebagai cadangan pangan rumah tangga dan semacam bank benih masyarakat. Ia menjaga pangan hari ini sambil mempertahankan kemampuan menghasilkan pangan esok hari.

Di dalam sistem tersebut tersimpan pula kekayaan varietas padi lokal yang diwariskan lintas generasi. Keragaman benih bukan hanya warisan budaya, melainkan modal ekologis. Ketika musim semakin sulit diprediksi, keberagaman varietas dapat memperbesar pilihan masyarakat dalam menghadapi perubahan lingkungan.

Ada pula dimensi sosial yang sering tidak masuk dalam hitungan produksi pangan. Ketika keluarga mengalami kesulitan, mekanisme berbagi dan gotong royong menjadi lapisan perlindungan. Artinya, ketahanan pangan tidak semata ditentukan oleh isi gudang, tetapi juga oleh kekuatan hubungan sosial di dalam masyarakat.