NADIKABAR.COM — Pelatih PSIM Yogyakarta Jean Paul Van Gastel menyatakan telah bekerja keras untuk membawa timnya memenangkan laga melawan PSM Makassar, tapi akhirnya harus menerima kekalahan 1-2 dalam pertandingan Super League di Stadion Sultan Agung, Bantul, Jumat.

"Saya bekerja sangat keras 24 jam sehari, bahkan rasanya seperti 26 jam," kata Van Gastel dalam konferensi pers pascapertandingan di Bantul, Yogyakarta, Jumat.

Van Gastel mengatakan telah berupaya semaksimal untuk memenangkan laga yang digelar tanpa penonton itu, melalui berbagai program latihan bersama para pemain.

"Saya selalu berpikir, mencoba merancang latihan, mengeksekusinya, dan mengelola banyak hal," kata dia.

Menurut van Gastel, pelatih merupakan profesi menantang dan menyita banyak waktu karena menuntut upaya maksimal agar tim mencatat hasil terbaik.

"Pekerjaan saya sangat menantang dan menyita waktu, tetapi saya memberikan yang terbaik yang saya bisa," katanya.

Van Gastel memahami bahwa para pendukung PSIM kecewa tim kebanggaannya kembali kalah setelah sebelumnya ditaklukkan Persija.

"Saya sangat memahami perasaan mereka, dan itu sangat wajar. Semua ini terjadi karena rasa cinta dan semangat yang mendalam, bagi mereka terhadap klub dan kota ini, dan bagi kami terhadap klub tempat kami bekerja," kata van Gastel.

Ia turut merasakan situasi sulit yang tengah dihadapi PSIM, terlebih timnya baru mendapatkan satu poin dari lima pertandingan.

"Seperti yang sudah saya sampaikan pada jumpa pers kemarin, kami memiliki kekhawatiran yang sama dengan para pendukung," katanya.

Van Gastel mengatakan tetap berusaha menerima situasi sulit itu karena telah mengerahkan kemampuan terbaiknya untuk tim.

"Jika ternyata itu belum cukup baik, setidaknya saya bisa merasa tenang karena saya telah melakukan segala sesuatu yang berada dalam kemampuan saya untuk memberikan yang terbaik bagi klub, tim, dan diri saya sendiri," tutupnya.