Demikian menurut pernyataan yang dirilis pada Kamis (15/10) oleh University of Tasmania (UTAS) di Australia. Para peneliti mengatakan bahwa tumbuhan darat menopang hampir seluruh hewan darat, fungi, dan bakteri, sementara tumbuhan berbunga merupakan kelompok yang paling produktif dan beragam, dengan sekitar 400.000 spesies di seluruh dunia. Menurut studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Plants, tim peneliti menganalisis lebih dari 60.000 temuan fosil dan menerapkan metode yang mengatasi bias utama dalam catatan fosil. Dengan demikian, mereka menghasilkan perkiraan baru mengenai keanekaragaman serbuk sari dan spora fosil selama 130 juta tahun terakhir. Salah satu penulis studi tersebut, Profesor Greg Jordan dari UTAS, mengatakan kepunahan tumbuhan maupun kemunculan kelompok tumbuhan baru yang memiliki hubungan evolusioner terjadi terutama selama dua periode pemanasan global ekstrem tersebut. Masing-masing periode berlangsung selama beberapa juta tahun, dengan pemanasan pada saat yang sama menghancurkan sekaligus mendorong keanekaragaman tumbuhan "dalam rentang waktu jutaan tahun," ujar Jordan.

Sebaliknya, periode yang lebih dingin ditandai oleh minimnya perubahan dalam keanekaragaman tumbuhan. Namun, para peneliti memperingatkan bahwa pemanasan yang disebabkan oleh aktivitas manusia kemungkinan akan memicu kepunahan tumbuhan jauh lebih cepat dibandingkan peristiwa pemanasan ekstrem pada masa lalu.