"Saya menonton sepakbola dan bekerja sebagai developer, serta tertarik pada teknologi deepfake dan kecerdasan buatan untuk membuat video-video lucu. Begitulah dua ide bertemu di kepala saya, dan saya membuat meme itu," tambahnya.

Khelifi menjelaskan, ketika itu Mbappe masih di PSG. Mbappe pun diterpa isu keretakan di ruang ganti, dengan salah satunya disebut-sebut Mbappe bersifat seperti diktator.

Khelifi turut bersimpati Mbappe, seraya berpendapat bahwa konsekuensi yang harus ditanggung sang pemain terasa tidak sepadan dengan apa yang dia anggap sebagai sebuah kesalahpahaman.

"Saya merasa kasihan pada Mbappe," lirihnya.

"Sungguh menyedihkan melihatnya harus menanggung beban begitu berat akibat satu kesalahan yang tidak disengaja seperti kehilangan sponsor serta potensi audiens. Dia menerima kecaman yang terlalu keras jika menimbang bobot dari situasi yang sebenarnya terjadi," tutupnya