Rencana elektrifikasi 3.782 unit bus Transjakarta dan Mikrotrans disebut memiliki potensi nilai sekitar Rp5,07 triliun untuk periode tiga tahun. Sementara itu, pengembangan pedestrian deck Dukuh Atas disebut bernilai sekitar Rp220 miliar.

"Kerja sama tersebut memperlihatkan kecermatan Gubernur Pramono Anung dalam mengambil peluang untuk memperluas kapasitas pembiayaan pembangunan sekaligus mendorong modernisasi layanan perkotaan," ungkap Zulfikar.

Lebih lanjut, dia menuturkan kolaborasi BUMN-BUMD dapat menjadi pelengkap pembiayaan pemerintah dan memperluas keterlibatan dunia usaha dalam pembangunan. Potensinya akan semakin besar apabila setiap proyek memiliki pembagian peran yang jelas, perencanaan yang matang, dan target manfaat yang terukur.

Namun, dia mengingatkan pentingnya tata kelola BUMD yang profesional, transparansi perkembangan proyek serta pengukuran realisasi investasi agar manfaat kerja sama dapat diketahui secara jelas oleh masyarakat.

Zulfikar menegaskan keberhasilan Jakarta menuju kota global tidak cukup diukur melalui pertumbuhan ekonomi dan besarnya nilai investasi, namun pencapaian pembangunan juga perlu dilihat dari penyerapan tenaga kerja, perkembangan UMKM, produktivitas pendapatan pelaku usaha lokal dan pengendalian inflasi.

Target menempatkan Jakarta dalam 50 kota global pada 2030, kata dia, perlu didukung dengan penguatan kualitas sumber daya manusia, infrastruktur, tata kelola, lingkungan usaha, dan pelayanan publik yang inklusif.

Melalui pengembangan ekonomi kreatif, kegiatan internasional, dan kolaborasi BUMD yang berkelanjutan, tambah dia, maka Jakarta memiliki peluang untuk memperkuat daya saing dan meningkatkan kontribusinya dalam jaringan ekonomi regional dan internasional.