Pasalnya, kata dia, di beberapa negara lain konser musik gospel itu dimanfaatkan untuk melakukan kampanye politik guna mendukung Israel, salah satunya dengan menggaungkan pernyataan I stand with Israel di sela kegiatan.

Menurut dia, ucapan tersebut cenderung sensitif lantaran tidak sejalan dengan politik luar negeri Indonesia serta dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina dalam mencapai kemerdekaannya.

"Kami tidak melarang pertunjukan musik, tidak mempersoalkan agama seseorang, silakan melakukan kegiatan keagamaan di sini, tetapi jika memang ada motif politik yang merugikan perjuangan rakyat Palestina, maka hal itu tidak sejalan dengan dengan pikiran dan aspirasi dari masyarakat kita sendiri," katanya.

Selain itu, Yusril menyampaikan sejauh ini belum ada permohonan izin penyelenggaraan konser tersebut dari pihak panitia maupun pengajuan visa penyelenggaraan konser musik dari penyanyi yang bersangkutan.