Upaya tersebut dilengkapi gerakan pangan murah (GPM), optimalisasi cadangan beras pemerintah (CBP) dan kerja sama antardaerah (KAD), serta penguatan produksi melalui pengelolaan air dan jaringan irigasi, pengaturan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, pemetaan wilayah rawan, dan Early Warning System.

Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif 7,25 miliar dolar AS sepanjang Januari–Agustus 2026.

Kinerja ekspor Januari–Agustus 2026 antara lain ditopang besi dan baja sebesar 19,18 miliar dolar AS atau tumbuh 4,88 persen, minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya 17,75 miliar dolar AS atau tumbuh 6,57 persen, serta batu bara 16,58 miliar dolar AS atau tumbuh 4,31 persen.

Ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,62 persen, mencerminkan kontribusi hilirisasi terhadap kinerja ekspor.

Dari sisi impor, bahan baku atau penolong dan barang modal mendominasi dengan masing-masing 133,38 miliar dolar AS dan 6,74 miliar dolar AS atau secara total mencapai 91,3 persen dari impor.

Peningkatan impor mesin atau peralatan mekanis 15,26 persen dan mesin/perlengkapan elektrik 22,94 persen menunjukkan meningkatnya kebutuhan input produksi dan barang modal sejalan dengan aktivitas produksi dan investasi domestik.