Tidak adanya mayoritas mutlak dalam parlemen mengisyaratkan negosiasi koalisi yang mungkin berlangsung alot dan bisa memakan waktu berminggu-minggu.
Jika tidak ada pemerintahan baru yang dapat dibentuk, maka Israel berpotensi menghadapi pemilu baru, seperti yang terjadi beberapa kali di masa lalu.
Keunggulan Netanyahu dalam pemilu tak serta-merta membawanya kembali pemimpin setelah hasil suaranya gagal menguasai mayoritas kursi parlemen. Israel kemudian dihadapkan kebuntuan politik.
Berikut adalah empat skenario politik yang mungkin terjadi untuk menghadapi hasil pemilu tersebut:
Skenario pertama ialah bergantung pada kemampuan Netanyahu membujuk rivalnya, Eisenkot, untuk bergabung dengannya dalam pemerintahan persatuan nasional. Untuk melakukan itu, Eisenkot harus meninggalkan platform utamanya.
Ia telah memposisikan dirinya sebagai satu-satunya alternatif selain Netanyahu dan membangun kampanyenya dengan tujuan melengserkan Netanyahu dari kekuasaan.
Pada malam pemilu beberapa waktu lalu, ia naik ke panggung di markas kampanyenya dan meminta Netanyahu untuk "mengumumkan pengunduran dirinya dari kehidupan politik hari ini." Ia mengatakan kepada massa bahwa rakyat Israel sudah muak dengan "budaya kebohongan," "perpecahan, dan hasutan" yang dibawa oleh Netanyahu.
Namun, pernyataan itu disampaikan sebelum salah satu jajak pendapat saat pemungutan suara (exit poll), yang awalnya memprediksi keunggulan bagi blok Eisenkot, direvisi dan kemudian menunjukkan bahwa posisinya telah disalip oleh Netanyahu.
Netanyahu bisa saja mencoba membujuk Partai Yashar pimpinan Eisenkot untuk bergabung dengan Partai Likud miliknya dalam sebuah pemerintahan persatuan, dengan cara melepas partai-partai sayap kanan ekstrem dan ultra-Ortodoks yang saat ini menjadi mitra koalisinya.
Namun, tadi malam di markas Likud, ia justru berterima kasih kepada "mitra-mitra setianya" dan menyerukan pembentukan "pemerintahan sayap kanan yang kuat", sebuah pernyataan yang ditafsirkan oleh beberapa pihak sebagai sinyal bahwa ia berniat mempertahankan aliansinya dengan partai-partai tersebut.
Satu hal yang mungkin membuat pemerintahan persatuan lebih mungkin terwujud adalah konflik baru dengan Iran, yang dapat memberikan tekanan besar bagi para pemimpin partai untuk mengesampingkan perbedaan politik mereka dan bekerja sama.
Beberapa hari sebelum pemilu, media Israel dan AS melaporkan bahwa Netanyahu mendesak dilakukannya serangan baru terhadap Iran, serta telah meminta Donald Trump untuk menyetujui keterlibatan AS.
Hal ini tentu akan dianggap oleh para pengkritik Netanyahu sebagai upaya untuk menyelamatkan karier politiknya sendiri dengan cara memicu konflik regional lainnya.
Skenario ini akan menjadi perubahan besar yang mengguncang lanskap politik Israel. Hanya satu partai Arab independen yang pernah secara resmi menjadi bagian dari koalisi, yakni pada tahun 2021, dan itu pun tidak bertahan lama.