"Yang TPS digital berjumlah satu TPS per desa sudah pasti selesai duluan. Yang biasa juga saya pikir cepat, karena cuma 500 pemilih per TPS. Tinggal nanti dihitung di desa masing-masing," ujarnya.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sistem pemungutan suara sebelumnya yang menggunakan konsep satu panggung dengan jumlah pemilih sangat besar. Sistem pengelompokan TPS seperti ini membuat proses penghitungan lebih mudah dikelola.

"Kalau satu panggung itu ribet. Contoh di Desa Setia Mekar, pemilih bisa sekitar 41 ribu. Sekarang sudah lebih nyaman karena dikelompokkan per 500, tinggal dihitung di desa masing-masing," katanya.

Sopyan turut mengimbau seluruh calon kepala desa berikut pendukungnya untuk menahan diri serta menerima hasil pemilihan dengan sikap dewasa. Ia berharap tidak terjadi gesekan setelah pemungutan maupun penghitungan suara selesai.

"Mudah-mudahan masing-masing paslon juga menahan diri. Siapa pun yang mendapatkan rezekinya, nanti kita lihat hasilnya," kata dia.