“Kami tentu melihat apa yang bisa diadopsi dan disesuaikan dengan kondisi Gianyar. Tidak semua model bisa diterapkan begitu saja, sehingga perlu dikaji dari sisi lahan, komoditas, kelembagaan subak, kesiapan petani dan manfaat ekonominya,” imbuh Dibya.

Ia mengatakan modernisasi pertanian tidak sebatas penggunaan mesin dan teknologi, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi petani seperti meningkatkan efisiensi, produktivitas, mengurangi beban biaya produksi dan memberikan dampak terhadap kesejahteraan petani,.

Dinas Pertanian Gianyar mengamati langsung penerapan teknologi modern di kawasan persawahan dengan luas 100 hektare di Kabupaten Jembrana.

Kawasan tersebut menjadi percontohan modernisasi kawasan padi dengan teknologi pertanian modern-agriculture advanced system (PM-AAS) di Balai Subak Tibubeleng.