Menurut dia, pola edukasi ke depan harus bergeser dari sekadar penyampaian teori menjadi pemberian contoh konkret agar mudah dipahami oleh masyarakat umum.
"Sering kali edukasi hanya menyebut terminologi seperti sampah organik, tanpa contoh visual. Masyarakat akan lebih cepat paham jika dijelaskan langsung, seperti sisa makanan atau sampah daun untuk organik, serta wadah plastik untuk anorganik," ujarnya.
Ia menekankan bahwa penerapan pemilahan sampah mandiri tidak membutuhkan sarana yang mahal atau wadah khusus. Warga dapat memanfaatkan tempat penampungan alternatif yang sudah ada di rumah, seperti kaleng bekas, ember tak terpakai, atau wadah makanan lama.
Selain menyasar pemukiman padat penduduk, pengawasan juga difokuskan ke fasilitas pendidikan, seperti SDN Meruya Selatan 03 dan SMPN 206 Jakarta.