NADIKABAR.COM — Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur (Jaktim) mengajak para pelajar untuk memahami sejarah dan nilai-nilai demokrasi Indonesia yang berintegritas.
"Mudah-mudahan, dengan diundangnya para perwakilan siswa, kurang lebih 80 siswa, nanti akan mendapatkan bekal keilmuan tentang kepemimpinan demokrasi dan bisa ditularkan teman-teman lainnya di sekolah," kata Wali Kota Jakarta Timur Munjirin di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, estafet pemahaman politik yang sehat dapat mengakar kuat di kalangan pelajar sebagai fondasi awal menyongsong masa depan bangsa.
Selain itu, melalui sinergi lintas sektor, kata dia, Museum Perjalanan Pemilu juga diharapkan terus berkembang menjadi pusat pembelajaran demokrasi yang berkelanjutan.
"Hadirnya museum juga menjadi simbol komitmen merawat sejarah sekaligus mercusuar edukasi agar tunas-tunas bangsa merajut asa demi kualitas demokrasi Indonesia yang berintegritas," ujar Munjirin.
Lebih lanjut, dia mengatakan kedatangan para pemilih pemula itu bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah penjelajahan perdana ke Museum Perjalanan Pemilu, museum pemilu pertama di Indonesia, yang berada di Jakarta Timur.
Bagi para pelajar, kunjungan tersebut memberikan pengalaman yang membuka wawasan baru tentang pertumbuhan sistem demokrasi di Indonesia, yang beradaptasi dari masa ke masa.
Salah satu siswa SMAN 36 Jakarta Dzakwan Mahib mengakui pemikirannya menjadi jauh lebih terbuka setelah melihat langsung rekam jejak penyelenggaraan pemilu.
"Kita jadi lebih terbuka pikirannya. Pemilu itu berjalan sangat lama dan banyak hal, perubahan-perubahan, yang bisa kita sampaikan dan kita bisa pelajari dari perubahan-perubahan tersebut, sehingga ke depannya, hal ini bisa dijadikan untuk meningkatkan pemilu yang lebih terbaik pastinya," ungkap Dzakwan.
Museum Perjalanan Pemilu hadir sebagai ruang edukasi strategis yang merangkum kisah panjang demokrasi Indonesia sejak pelaksanaan pemilu pertama pada 1955 hingga era modern berbasis teknologi informasi.
Sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia dengan jumlah pemilih mencapai lebih dari 200 juta orang, Indonesia memerlukan wadah representatif untuk merawat warisan sejarah tersebut.
Museum itu juga mengusung visi yang kuat, yakni terwujudnya pusat pelestarian nilai-nilai sejarah kepemiluan guna memperkukuh karakter nasionalisme generasi muda.
Melalui misi yang berfokus pada fungsi pendidikan, penelitian, rekreasi, serta tata pamer interaktif, museum tersebut dirancang agar informatif dan menyenangkan bagi masyarakat luas.
Berbagai artefak, dokumentasi, dan narasi visual disusun sedemikian rupa dalam alur kunjungan untuk memudahkan pengunjung memahami dinamika regulasi serta kelembagaan pemilu dari masa ke masa.
Pengunjung juga diajak melakukan refleksi mendalam bahwa pemilu merupakan instrumen utama kedaulatan rakyat yang harus dijaga bersama-sama.