Menurut dia, masih belum optimalnya konsumsi ikan di Jateng tidak semata-mata disebabkan persoalan harga maupun ketersediaan.

Ia mengatakan bahwa faktor budaya masyarakat yang selama ini lebih terbiasa mengonsumsi daging dan ayam turut menjadi tantangan. Seperti masyarakat di wilayah tengah Jateng, seperti kawasan Solo dan Boyolali yang secara turun-temurun belum terbiasa mengonsumsi ikan segar sehingga yang lebih mudah dijumpai justru dalam bentuk olahan atau ikan yang diawetkan.

Ia menilai penguatan rantai distribusi menjadi salah satu kunci untuk mengubah kebiasaan tersebut.