Pendapatan tersebut ditopang oleh pendapatan tol sebesar Rp14,3 triliun atau tumbuh 6,8 persen, serta pendapatan usaha lain sebesar Rp1,3 triliun atau tumbuh 21,5 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Untuk pendapatan usaha lain didukung oleh tiga lini bisnis utama Jasa Marga, yaitu pengoperasian jalan tol, preservasi jalan tol, dan bisnis prospektif.Seiring peningkatan pendapatan tersebut, Perseroan memfokuskan strategi kuartal ketiga pada penguatan ketahanan fundamental dan optimalisasi struktur biaya. Langkah ini ditempuh melalui pengelolaan belanja operasional secara terukur dan disiplin.Dari optimalisasi tersebut, kata dia lagi, Perseroan berhasil mempertahankan kinerja positif dengan mencatatkan EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) sebesar Rp10,5 triliun dan margin EBITDA sebesar 67,0 persen.

Pada periode yang sama Perseroan membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,7 triliun, dan capaian kinerja positif ini menunjukkan keberhasilan Perseroan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan usaha, pengelolaan risiko dan penciptaan nilai jangka panjang.Rivan menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan upaya Perseroan menjaga kinerja bisnis dan kesehatan finansial di tengah kebutuhan pengembangan infrastruktur serta peningkatan kualitas layanan jalan tol."Kami memastikan pengelolaan operasional berjalan optimal, sekaligus menjaga kapasitas investasi untuk mengembangkan jaringan jalan tol, meningkatkan standar layanan melalui pemanfaatan teknologi. Dengan demikian, pertumbuhan Perseroan dapat berjalan selaras dengan penciptaan nilai bagi pengguna jalan dan seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.