NADIKABAR.COM — Di samping foto kampung halaman yang diletakkan di atas meja asrama, terdapat sebuah lampion ikan tradisional khas Huizhou, sementara rak-rak dipenuhi dengan buku-buku berbahasa Mandarin.
Bagi Nurkholish, seorang mahasiswa asal Indonesia di China, buku-buku tersebut menjadi sarana untuk mempelajari bahasa, sementara lampion itu mengingatkannya pada proses mengenal sebuah tempat dan budaya yang sebelumnya terasa asing baginya.
"Pihak universitas menyelenggarakan kegiatan untuk merayakan festival tradisional Tiongkok, seperti Festival Musim Semi dan Festival Perahu Naga, sehingga kami dapat mengenal dan mempelajari budaya Tiongkok," kata Nurkholish. Pada waktu luangnya, dia sering bepergian bersama teman-teman sekelasnya untuk menjelajahi kota dan merasakan kehidupan sehari-hari di Tiongkok. Seiring waktu, dia pun mulai memiliki ikatan khusus dengan Wuhu. Bagi Nurkholish dan teman-teman sekelasnya yang juga berasal dari Indonesia di Universitas Teknik Kejuruan Wuhu, datang ke Tiongkok bukan sekadar untuk mempelajari keterampilan teknis. Pengalaman tersebut juga berarti mengenal cara hidup yang baru.