NADIKABAR.COM — Pendidikan sejak dulu selalu berkaitan dengan pendidikan karakter. Nampaknya, pendidikan karakter dan tujuan sekolah adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dan dianggap sebagai "khittah"-nya pendidikan.
Banyak pihak memandang bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menjadikan siswanya berkarakter sehingga mampu bertahan dan menjadi pemenang dari kerasnya persaingan dan ketidakpastian di masa depan. Hal tersebut tentu tidak salah, tetapi membuat sistem pendidikan hanya berpusat pada tuntutan agar siswa berkarakter sesuai tuntutan masyarakat saat ini dan di masa depan saja juga terasa dangkal dan kurang tepat.
Pendidikan seharusnya bertujuan membebaskan jiwa kita melalui pemahaman tentang dunia, mengapa berbagai hal, baik itu fenomena alam dan sosial terjadi sebagaimana ia terjadi, serta yang paling penting adalah tentang keberadaan dan bagaimana peran kita di tengah-tengah masyarakat.
Alih-alih membebaskan kita dari ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, pendidikan justru kerap melanggengkan kondisi tersebut. Siswa diajarkan menggunakan pola pikir ala era revolusi industri dimana tujuan pendidikan menghasilkan lulusan yang siap mengoperasikan mesin-mesin pabrik dan menghasilkan produk-produk massal yang dapat dengan cepat dikonsumsi masyarakat.
Siswa diatur duduk berbaris rapi, menghadap dan mendengarkan ceramah guru, menghafal fakta-fakta, dan kemudian mengikuti ujian. Pendidikan dengan pola ini tanpa kita sadari mengajarkan siswa hanya untuk memproses ulang fakta atau keadaan sosial di sekitar mereka tanpa pemahaman yang mendalam apalagi berempati dan menawarkan solusi.
Dengan kata lain, siswa diajarkan, untuk cukup beradaptasi dengan lingkungan, bekerja dengan pola yang sudah ada dan melanjutkan status quo agar mereka menjadi pemenang di tengah-tengah ketidakadilan dan ketimpangan yang terjadi. Pendidikan yang bermakna jauh melampaui hal itu.