NADIKABAR.COM — Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) dari Kelompok Keahlian (KK) Geofisika Global, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), mengembangkan inovasi seismometer digital dengan teknologi Internet of Things. Seismometer yang dinamakan Geolini ini memiliki fitur unggulan berupa kemampuan merekam gempa hingga ribuan kilometer.

Dikutup dari laman ITB, Geolini berasal dari kata bahasa Yunani kuno 'geo' yang artinya Bumi dan kata bahasa Sunda 'lini'; yang artinya gempa. Geolini merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk pemantauan gelombang atau getaran seismik lokal hingga mikroseismik (microseismic), termasuk aktivitas tektonik, vulkanik, maupun kegempaan terinduksi (induced seismicity).

Geolini juga bisa digunakan untuk pemantauan aktivitas seismik akibat perekahan hidraulis (hydraulic fracturing) serta aplikasi lain yang membutuhkan resolusi tinggi dan rentang dinamis yang luas. Alat ini dirancang untuk mendukung kebutuhan peneliti, institusi pemantauan kebencanaan, maupun sektor industri.

Dikembangkan sejak 2020, Geolini versi 2 (V.2) sudah menjadi instrumen nirkabel (wireless) dengan prinsip internet of things (IoT). Fitur ini memungkinkan peneliti memantau data kegempaan secara langsung atau real-time dari jarak jauh.

Secara teknis, cara kerja Geolini yaitu tiga sensor geophone menangkap getaran tanah, kemudian digitizer mengubah sinyalnya menjadi data digital. Digitizer adalah papan elektronik (electronic board) yang dikembangkan tim peneliti untuk mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital, dan mengatur sistem waktu menggunakan GPS.

"Data yang telah diolah kemudian dikirimkan secara nirkabel melalui modul komunikasi dan antena," jelas salah satu inovator Geolini, Dr Ir Zulfakriza, S Si, M T.