NADIKABAR.COM β Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Rendani Manokwari, Papua Barat, memastikan penerbangan komersial kembali normal pada Senin (5/10) meski kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti wilayah tersebut.
Kepala UPBU Kelas II Rendani Herman Sujito di Manokwari, Senin, mengatakan, ada dua maskapai yang melayani penerbangan dari dan menuju Manokwari setelah kondisi jarak pandang memungkinkan operasional berjalan dengan aman.
βHari ini hanya ada dua penerbangan saja dan semua berjalan dengan normal karena jarak pandang memungkinkan untuk pendaratan,β ucap Herman.
Dia menyebut bahwa aktivitas penerbangan dua hari sebelumnya yaitu Sabtu (3/10) dan Minggu (4/10) terpaksa dibatalkan karena kabut asap dampak karhutla dari wilayah lain menghambat jarak pandang pilot saat hendak mendaratkan pesawat.
Penerbangan pada Sabtu dari Jayapura ke Manokwari harusnya mendarat sekitar pukul 12.00 WT namun dialihkan ke Ambon karena jarak pandang hanya 500 meter, dan sore harinya kondisi kabut tidak berubah sehingga penerbangan kedua mendarat di Sorong.
βHari Minggu juga sama, penerbangan dari Sorong, Jayapura, Nabire, dan Kaimana tidak bisa mendarat karena jarak pandang hanya 3 kilometer,β ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua Barat Danang Tri Soesilo menjelaskan, kabut asap yang menyelimuti Manokwari juga dipengaruhi karhutla di Provinsi Papua Selatan, dan Papua Nugini (PNG).
Asap kiriman dari Papua Selatan dan PNG mempertebal kabut asap akibat karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Papua Barat, antara lain Kabupaten Manokwari Selatan, Teluk Bintuni, Kaimana, dan Fakfak.
"Termasuk juga karhutla dari Maybrat, Papua Barat Daya yang asapnya kena sampai ke Manokwari,β ujarnya.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 3 Oktober 2026, jumlah titik panas (hotspot) di Papua Selatan mencapai 2.658 titik panas dan untuk wilayah Papua Barat terdapat 1.294 titik panas.