Dalam kondisi seperti itu tentu mengalami kendala infrastruktur dan tingkat kesulitan yang lebih kompleks dibandingkan menggunakan MNK, lanjutnya, termasuk dari sisi biaya, yang sudah tentu lebih mahal.
"Sedangkan MNK, sebagian sumurnya masih ada di daratan. Dengan demikian diharapkan, biaya produksi atau paling tidak secara teknis, tidak sesulit di laut dalam, sehingga memang layak menjadi harapan untuk memperkuat ketahanan energi Indonesia," ujar Komaidi.
Sebelumnya, PHR sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina melakukan penandatanganan Kontrak Bagi Hasil MNK Rokan lewat anak usahanya PT PHE Rokan Nonkonvensional.
Momentum ini merupakan langkan strategis pengembangan MNK dan mempertegas MNK Rokan sebagai pionir proyek pengembangan MNK di Indonesia.
Perjalanan MNK Rokan dimulai dari pengeboran Gulamo DET-1 pada 2023, yang kemudian dilanjutkan dengan Kelok DET-1 pada 2024 sebagai bagian dari upaya studi potensi migas non-konvensional di struktur North Aman.