NADIKABAR.COM β Pengamat Pertahanan dari Marapi Consulting Alman Helvas Ali menilai konsep kerja sama offset dalam pembelian alat utama sistem senjata dapat memberi keuntungan jangka panjang kepada negara.
Pasalnya melalui kerja sama tersebut, produsen alutsista dapat memberikan timbal balik berupa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan teknologi bidang senjata kepada negara pembeli.
"Offset hanyalah salah satu tahapan dalam penguasaan teknologi maju. Teknologi yang didapatkan dari offset harus digunakan untuk mengembangkan suatu produk baru yang buatan kita sendiri,β kata Alman dalam siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, Senin.
Namun demikian, Alman menilai konsep offset hanya bisa memberi dampak maksimal jika industri pertahanan (indhan) dalam negeri dilibatkan dalam kerja sama tersebut.
Dia pun mencontohkan peluang indhan dalam negeri dilibatkan dalam mengembangkan kapal jenis Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) di bidang simulator.
Dia menilai offset akan lebih bermakna apabila perusahaan Indonesia yang menerima teknologi kemudian dipercaya mengembangkan simulator atau produk sejenis untuk kebutuhan pertahanan nasional.
βBagaimana perusahaan bisa membuktikan mereka telah menyerap teknologi simulator apabila mereka tidak diberi kesempatan mengembangkan produk berdasarkan ilmu yang mereka dapatkan dari offset?β terang dia.
Dengan adanya konsep offset ini, Alman yakin indhan dalam negeri akan semakin kuat dan mandiri karena telah menerima banyak ilmu dari indhan asing.
Sebelumnya, Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan (Sesbalitbang Kemhan) Marsma TNI S Arief Hardoyo juga mendukung konsep kerja sama "offset" dibandingkan transfer of technology (ToT) dalam sebuah kolaborasi industri militer karena lebih menguntungkan negara.
Menurut dia, cukup sulit bagi produsen alutsista memberikan fasilitas ToT kepada pihak yang ingin membeli produknya.
"Pengalaman saja kita beli F-16 diberikan offset saja sudah bagus, bisa dikerjakan di Indonesia.Begitu minta ToT, tidak masuk akal, yang benar kita kuasai dan curi ilmu dari mereka," kata saat menggelar diskusi di gelaran Indo Defence seperti dikutip siaran pers resmi Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) dan Indo Defense Magazine (IDM) yang diterima Antara, Jumat (13/6/2025)
Menurut Arief, konsep ToT justru akan membahayakan produsen alutsista lantaran rahasia kecanggihan teknologi yang diperjualbelikan akan mudah tersebar.
Kondisi tersebut dapat mengancam keberlangsungan industri pertahanan itu sendiri.
Sedangkan untuk konsep offset, produsen memberlakukan konsep STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di negara mitra.
Hal tersebut yang dilakukan produsen pesawat terbang Boeing dan Indonesia saat membeli 24 pesawat tempur F15EX pada Agustus 2023.
Dalam konsep offset, Boeing menyediakan konsep kerja sama pengembangan kapabilitas industri pertahanan Indonesia, terkhusus di bidang teknologi dan pendidikan.
Melalui kerja sama ini, Boeing berusaha mengembangkan kualitas SDM dengan meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan yang berkaitan dengan teknologi dan ilmu sains.
"Melalui kerja sama dengan sekolah dan universitas, Boeing membantu menciptakan ekosistem pendidikan yang mampu mencetak talenta-talenta baru di bidang teknologi tinggi," kata Director for India, Asia, and Pacific, Boeing Defense, Space & Security, Randy Rotte dalam siaran pers yang sama.
Dengan metode seperti ini, Indonesia tidak hanya mendapatkan teknologi mentah saja melainkan pijakan yang kuat berupa SDM yang berkualitas untuk menciptakan teknologi pertahanan lebih maju di masa depan.