NADIKABAR.COM — Pengamat komunikasi politik Hendri Satrio (Hensa) mengingatkan masyarakat untuk tidak terburu-buru memahami sebuah peristiwa hanya dari potongan video atau clipper yang beredar di media sosial.

Ia mengatakan perkembangan teknologi komunikasi membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi. Namun, kemudahan tersebut juga perlu dibarengi kehati-hatian karena informasi yang diterima belum tentu menggambarkan keseluruhan cerita.

"Di era teknologi komunikasi saat ini, di era media sosial, di era homeless media, memang harus berhati-hati dalam mencerna sebuah cerita. Cerita harus dilihat secara utuh dan jelas," kata Hensa dalam keterangan di Jakarta, Jumat.

Hensa menanggapi perihal ramainya video Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya saat peresmian LRT Jakarta rute Kelapa Gading-Manggarai.

Dalam potongan video yang beredar, Teddy terlihat meminta sejumlah pihak, termasuk jajaran direksi dan pejabat terkait untuk berpindah tempat. Cara Teddy memberikan arahan tersebut kemudian menjadi perhatian sebagian masyarakat.

"Ia ramai disebut meminta Direktur LRT pindah tempat, namun caranya mungkin tidak enak bagi sebagian masyarakat jika dilihat videonya," ujar Hensa.

Menurut penjelasan yang disampaikan Teddy, pengaturan posisi di dalam gerbong dilakukan untuk memberikan ruang agar para penyandang disabilitas dapat berada lebih dekat dengan Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

Dengan demikian, para penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk berkomunikasi dan berdialog dengan Presiden serta Gubernur.

Menurut Hensa, konteks tersebut tidak terlihat apabila masyarakat hanya menyaksikan potongan video yang lebih dahulu beredar.

"Tetapi clipper yang beredar di masyarakat justru yang terlihat hanya bagaimana Seskab Teddy meminta para direksi LRT, Dirjen Perkeretaapian, dan lainnya untuk pindah gerbong tanpa menjelaskan maksud dan tujuannya," ujarnya.

Hensa menyatakan fenomena semacam itu tidak hanya terjadi dalam kasus Teddy. Menurut dia, berbagai peristiwa lain juga dapat dipahami secara tidak lengkap apabila masyarakat hanya mengandalkan potongan video.

Ia mengatakan masyarakat saat ini kerap menemukan suatu peristiwa melalui video-video pendek. Persoalannya, potongan tersebut tidak selalu menyertakan konteks secara keseluruhan.

Founder Lembaga Survei KedaiKOPI itu menilai fenomena tersebut tidak lepas dari perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi konten di media sosial.

Menurut dia, cerita atau komunikasi dengan durasi panjang cenderung lebih jarang ditampilkan karena dianggap dapat membuat pengguna media sosial bosan hingga menghabiskan lebih banyak kuota internet.

Akibatnya, pembuat konten lebih memilih membuat potongan-potongan video singkat yang dinilai lebih mudah mendapatkan perhatian.

"Jadi, biasanya cerita komunikasi yang panjang itu jarang sekali ditampilkan karena ditakutkan akan membuat bosan, kemudian makan kuota, dan lain-lain sehingga orang lebih tertarik, lebih suka untuk melaksanakan atau membuat clipper-clipper yang tujuannya untuk menarik perhatian, menambah follower, masuk FYP," ujar Hensa.

Namun, menurut dia, ada hal penting yang berpotensi hilang ketika sebuah peristiwa hanya disajikan dalam bentuk potongan-potongan singkat tersebut.

Hensa mengatakan kondisi semacam itu dapat membuat masyarakat mendapatkan cerita setengah-setengah dan akhirnya memahami sebuah kejadian secara berbeda apabila tidak mencari konteks lengkapnya.