Sebelum erupsi atau tepatnya 19 Desember 2018, luas gunung yang masuk wilayah Lampung Selatan, Lampung itu mencapai 300 hektare.

Luas Gunung Anak Krakatau kemudian berkurang usai mengalami erupsi dan bencana longsoran.

"Bencana keruntuhan sektor barat daya tersebut sempat memangkas drastis daratan gunung menjadi tersisa 246,18 hektare per 26 Desember 2018," kata Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, Rita Susilawati Sabtu (26/9/2026).

Pertumbuhan masif ukuran fisik daratan tersebut sejalan dengan hasil riset kolaboratif Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama University of Birmingham, ITB, Penn State University, British Geological Survey, University of Oxford, serta PVMBG, yang mengonfirmasi bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini tengah berada dalam fase rekonstruksi dan pembangunan kembali (rebuilding phase).

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Dini Nurfiani menjelaskan perjalanan Anak Krakatau memperlihatkan bahwa gunung api merupakan sistem geologi dinamis yang berkembang melalui siklus panjang pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembentukan kerucut baru.

"Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru," kata Dini.