"Pertama kali ketemu Mama Sigi langsung klik karena nyaman dan kami punya chemistry, aku nggak pernah kayak gitu, pas sama Mama Sigi rasanya kayak di rumah, kayak lihat mama tapi orang yang berbeda," tutur Chempa.

Sutradara Ariani menuturkan, dirinya langsung jatuh cinta dengan akting Chempa yang alami, sehingga ia turut memasukkan bagian dari Chempa ke tokoh Jani yang ditulisnya di draf final.

Diskusi mendalam antara sutradara dan para aktor menciptakan cerita yang kaya detail. Ariani menggali soal dinamika keluarga tiap aktor, kemudian memasukkan serpihan-serpihan itu ke dalam skenario.

"Itu sangat memudahkan aktor untuk masuk ke dalam karakter," ungkap Sigi.

Ariani juga menjawab pertanyaan penonton mengenai ketiadaan adegan flashback untuk menggambarkan konflik antara ibu dan anak. Menurut sutradara, ia menginginkan penonton untuk bisa merasakan ceritanya serealistis mungkin, tanpa harus "terpotong" oleh adegan kilas balik.

Sementara soal ketiadaan peran laki-laki, Ariani memang sengaja ingin menonjolkan hubungan antara ibu dan putrinya. Bersama penulis Cyntha Hariadi, ia khusus meminta tambahan karakter Oma (Tutie Kirana) yang jenaka. Menurutnya, ada kompleksitas antara hubungan perempuan di dalam keluarga yang ingin ia sampaikan kepada penonton.