NADIKABAR.COM — Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, perkembangan akal imitasi (AI), serta perang Rusia-Ukraina menjadi sejumlah isu utama yang mendominasi hari kedua Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 pada Rabu (23/9).
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan menyampaikan pidato untuk pertama kalinya sejak perang dengan Amerika Serikat dimulai pada Februari. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga akan berpidato di hadapan Majelis Umum setelah bertemu Presiden AS Donald Trump pada Selasa (22/9).
Pada hari yang sama, para pemimpin industri teknologi, termasuk CEO OpenAI Sam Altman, CEO Anthropic Dario Amodei, dan CEO Hugging Face Clement Delangue, dijadwalkan menghadiri pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB mengenai AI.
Pertemuan antara perwakilan AS dan Iran berlangsung di sela-sela sidang Majelis Umum. Trump mengatakan kepada wartawan bahwa pertemuan tersebut berlangsung sekitar tiga jam dan menyebutnya sebagai pertemuan yang "sangat baik" dan "sangat produktif".
Trump sebelumnya menggunakan pidatonya di Sidang Umum PBB untuk mengancam Iran. Ia mengatakan masih menghadapi pilihan antara kesepakatan damai dan penghancuran Republik Islam Iran.
"Apakah akan tercapai kesepakatan dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih besar dari sebelumnya, mungkin salah satu yang terbesar di Timur Tengah atau bahkan dunia? Atau apakah saya akan memusnahkan Republik Islam itu dan melakukannya dengan cepat," kata Trump.
Perang telah memasuki kebuntuan dan berdampak langsung terhadap negara-negara di kawasan serta perekonomian global. Arus minyak melalui Selat Hormuz juga terganggu akibat blokade.
Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mengatakan krisis tersebut menunjukkan perlunya sistem keamanan kolektif regional. Menurutnya, situasi tersebut merupakan akumulasi dari penundaan penanganan krisis dan kebijakan yang tidak realistis.
"Di jantung situasi berbahaya yang kita saksikan terdapat ketiadaan sistem keamanan kolektif regional," kata Al Thani. Ia juga memperingatkan bahwa pembatasan jalur pelayaran di Selat Hormuz telah menjadikan "jalur kehidupan ekonomi global" sebagai alat tawar-menawar.
Menurut Al Thani, dampaknya tidak hanya terasa pada harga bahan bakar, tetapi juga pada sejumlah barang utama seperti makanan dan obat-obatan.