NADIKABAR.COM — Hampir tujuh bulan sejak perang Iran berlangsung, negosiasi antara Washington dan Teheran belum membuahkan hasil, dan konflik telah meluas dari Selat Hormuz ke jalur pelayaran strategis lainnya.

Pada September 2026, milisi Houthi yang didukung Iran di Yaman merebut posisi-posisi penting di sepanjang pesisir Yaman dan mengancam jalur perdagangan Laut Merah, sekaligus melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran di Arab Saudi. Hal ini memperparah krisis energi global yang dipicu oleh blokade Selat Hormuz.

Pada awal September itu juga, pejabat Arab Saudi menuduh milisi yang didukung Iran di Irak telah meledakkan jaringan pipa minyak penting East-West Pipeline.

Menurut The New York Times, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman menghubungi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (20/09) untuk sekali lagi mendesaknya agar turun tangan menghentikan laju cepat pasukan Houthi.

Trump dilaporkan pernah mempertimbangkan serangan udara terhadap Houthi, tapi kemudian membatalkan rencana tersebut. Akhir pekan ini, Fox News melaporkan bahwa Trump menyebut pemberontak Houthi telah sepakat untuk tidak menargetkan serangan kepada AS. Media AS Axios juga melaporkan bahwa Trump menolak permintaan Arab Saudi untuk melancarkan serangan terhadap Houthi pada pekan sebelumnya.

Di tengah harga bensin dan solar yang mencetak rekor tertinggi dan menekan para pemilih menjelang pemilu sela AS pada 3 November 2026, Trump berada di bawah tekanan untuk menunjukkan hasil nyata dalam Perang Iran.

"Presiden Trump ingin mengakhiri perang Iran dari posisi yang memungkinkannya mengeklaim bahwa kemampuan nuklir dan militer Iran telah melemah secara signifikan, kebebasan navigasi telah dipulihkan, dan Teheran telah dipaksa kembali ke meja perundingan," kata pakar Iran Fatemeh Aman kepada DW.

Fatemah Aman, yang pernah bekerja dengan berbagai organisasi termasuk Middle East Institute, Atlantic Council, RFE/RL, dan Voice of America, menambahkan bahwa strategi yang koheren untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut masih sulit untuk dipahami dengan jelas.

AS telah menimpakan biaya militer dan ekonomi yang besar kepada Iran dan tampaknya telah membuat kemajuan dalam melemahkan kemampuan militer negara tersebut. Namun, Teheran belum menyerah dan belum ada kesepakatan gencatan senjata yang bertahan.