NADIKABAR.COM — Ucapan Masya Allah, Tabarakallah, dan Allahumma Baarik sangat akrab di telinga umat Islam. Ketiga ucapan ini sering diucapkan saat melihat hal-hal yang menakjubkan, keindahan, atau ketika mendoakan keberhasilan seseorang.
Meskipun sama-sama mengandung puji-pujian kepada Allah SWT, masih banyak orang yang keliru dalam memahami perbedaan arti serta waktu penggunaan yang tepat.
Lantas, bagaimanakah perbedaan ucapan Masya Allah, Tabarakallah, dan Allahumma Baarik? Bagaimana tulisan Arab, Latin, dan artinya serta kapan waktu diucapkannya ketiga ucapan tersebut?
Berikut adalah lafaz dan arti dari masing-masing ucapan Masya Allah, Tabarakallah, dan Allahumma Baarik:
Arti: "Sesuatu yang Allah SWT kehendaki."
Kata Masya Allah sudah tercantum dalam KBBI dengan makna apa yang dikehendaki Allah SWT.
Dalam kitab Al Tahrir wa al Tanwir karya Ibnu 'Asyur, kata tabarak menampakkan sifat pada sesuatu yang disifati. Dan Tabaraka ini dalam banyak hadits selalu berdampingan dengan kata Ta'ala, yang digunakan untuk Keagungan Allah SWT.
Latin: Allahumma Baarik (atau lengkapnya Allahumma baarik 'alaih / 'alaihi / 'alaika)
Arti: "Ya Allah, berkahilah dia/hal ini."
Perbedaan mendasar dari ketiga ucapan ini terletak pada fokus ucapan dan tujuan spiritualnya:
Diucapkan sebagai bentuk ikrar bahwa segala bentuk keindahan, kehebatan, atau keberhasilan yang kita lihat terjadi semata-mata atas kehendak dan izin Allah SWT, bukan karena kehebatan manusia.
Diucapkan untuk memuji keagungan Allah SWT yang Maha Melimpahkan keberkahan atas penciptaan atau karunia-Nya yang menakjubkan.
Berbeda dengan dua ucapan sebelumnya yang berupa pujian dan pengakuan, Allahumma Baarik secara khusus berbentuk doa permohonan keberkahan (mubarak) langsung kepada Allah untuk orang lain atau barang/hal yang sedang dilihat.
Agar tidak salah tempat, berikut panduan waktu dan situasi yang tepat untuk mengucapkan ketiga ucapan tersebut:
Diucapkan saat merasa kagum, takjub dan heran akan suatu hal yang berhasil diraih oleh diri sendiri.
Contoh: Saat melihat anak sendiri mendapat nilai bagus, melihat kendaraan pribadi yang baru dibeli, atau memiliki bangunan yang megah.
Diucapkan saat menyaksikan kekuasaan atau keindahan ciptaan Allah yang sangat menakjubkan di alam semesta maupun kelebihan pada diri seseorang.
Contoh: Saat melihat pemandangan alam yang sangat indah, kelahiran bayi yang lucu, atau mengagumi bakat seseorang.
Sangat dianjurkan diucapkan ketika memuji atau melihat kenikmatan maupun keberhasilan orang lain dengan memohon keberkahan Allah SWT.
Contoh: Saat memuji tumbuh kembang anak teman, melihat usaha teman yang makin sukses, atau mendatangi acara pernikahan.