Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan awal Ramadhan melalui sidang isbat yang digelar akhir Syaban. Sebelum sidang digelar, perkiraannya dapat dicek dalam kalender Hijriah yang dirilis Kementerian Agama.
Namun, sampai artikel ini dibuat, kalender Hijriah 2027 belum dirilis. Sebagai gantinya, pembaca bisa merujuk Peta Ketinggian Hilal 2027 keluaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Diketahui, Indonesia menentukan awal bulan dengan kombinasi metode hisab dan rukyatul hilal yang memakai kriteria imkanur rukyat MABIMS. Kriterianya adalah tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Jika kriteria itu terpenuhi, maka secara hisab, posisi hilal (bulan baru) sudah memenuhi persyaratan. Namun jika tidak, bulan berjalan digenapkan 30 hari dan baru esoknya, bulan baru dimulai.
Berdasarkan data BMKG, konjungsi Ramadhan 1448 H terjadi pada 6 Februari 2027 pukul 22.56.02 WIB. Pada saat Matahari terbenam di Indonesia 6 Februari 2027, posisi hilal berada pada ketinggian -4,52° di Jayapura hingga -3,22° di Tua Pejat. Itu artinya, kriteria tinggi minimal 3° belum terpenuhi.