Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (22/9), menjelaskan masyarakat perlu membedakan antara keberlangsungan fenomena El Nino di tingkat global dengan dampaknya terhadap kondisi iklim di Tanah Air.

"Dampak El Nino terhadap kekeringan di Indonesia akan selesai dengan masuknya musim hujan yang dimulai bertahap pada Oktober, November, hingga Desember, meskipun fenomena El Nino di Pasifik diprediksi bertahan hingga akhir kuartal pertama 2027," katanya.

Ardhasena memaparkan fenomena El Nino merupakan anomali suhu muka laut yang berpusat di Samudra Pasifik dan memiliki durasi siklus panjang yang mempengaruhi berbagai kawasan dunia dengan dampak yang berbeda-beda.

Di Indonesia, dampak utama El Nino berupa penekanan curah hujan dan kemarau panjang akan terhenti begitu sirkulasi angin monsun memasuki wilayah Nusantara dan memicu pembentukan awan hujan.