NADIKABAR.COM — Ketua Yayasan Budi Sain Mangkling yang menaungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu, Khaerudin, menyinggung kebiasaan siswa yang tidak sarapan di rumah saat membahas kasus 352 siswa diduga keracunan MBG di Batukliang. Pernyataannya itu viral di media sosial (medsos) dan menuai sorotan karena seolah mengaitkan kondisi siswa dengan dugaan keracunan.
"Kadang kala anak-anak di rumah nggak dikasih makan dikasih sarapan. Akhirnya nanti sarapannya di dapur (sekolah). Ketika sampai di dapur (sekolah), siapa tahu ada yang mengalami mag. Sakit mag adik-adik kita. Seperti contoh yang sekarang yang masih sisa satu itu kan gejala sakit maag," katanya dalam video viral yang dikutip NadiKabar, Minggu (13/9/2026).
Khaerudin menduga gejala awal tersebut membuat kondisi murid semakin parah ketika mengonsumsi MBG. Ia menyampaikan para siswa sejatinya sangat menunggu-nunggu pembagian MBG sehingga tak jarang mereka sengaja tak sarapan di rumah.
"Sehingga dengan adanya makan bergizi ini, juga apa namanya, seperti mengharapkan makanan bisa di sekolahnya, tidak akan ada sarapan di rumah," tegasnya.
Pernyataan tersebut disampaikan saat hasil uji laboratorium sampel makanan yang diamankan dalam kasus dugaan keracunan 352 siswa belum keluar. Khaerudin mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan tersebut.
"Sama ini nanti kan kaitan dengan di-suspend atau kaitan dengan apa, kita memang tetap menunggu hasil laboratorium," katanya.
Khaerudin juga membeberkan seluruh proses pengolahan, pengemasan, hingga pengiriman makanan telah dijalankan sesuai prosedur operasional standar (SOP). Menurutnya, persoalan terjadi karena adanya keterlambatan distribusi di sekolah.