Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong Pemilu 29 Pemilu 29. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap nggak. Itu lho maksud saya.
Jangan maksud saya gini lho. Saya pengalaman dengan gerak sejarah, ini ada yang abnormal di masyarakat saat ini. Ini demo Pati, Madura demo lagi, ikut tandingan, ah ini udah kayak Pam Swakarsa di 98 ini. Pasti kalah yang preman.
Cuman maksud saya terjadi anomali-anomali variabel di masyarakat yang membuat kita tidak hanya sekadar memikirkan skenario-skenario konvensional, langkah-langkah, tahapan-tahapan yang sebagaimana mestinya. Ini terjadi yang namanya, kalau menurut pendapat saya, terjadinya yang namanya patahan sejarah.
Bagaimana tahun 97 tiba-tiba Pemilu yang berikutnya 99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul... tidak membuat masyarakat happy.
Saya... insting aktivis saya mengatakan ini ada sesuatu yang... lebih cepat dari yang kita bayangkan. Makanya itu saya coba mau membuka wacana aja ke temen-temen, supaya berpikir, jangan hanya sekedar berpikir 29. Harus ada pikiran lain, alternatif, manakala terjadi percepatan... sejarah. Terima kasih."
Setelah video tersebut viral, Budi Arie memberikan klarifikasi pada Rabu (26/8/2026). Melalui keterangan video yang disampaikan kepada wartawan, ia menyampaikan tiga poin untuk menjelaskan maksud pernyataannya sekaligus meminta maaf atas polemik yang muncul.
Salah satu poin yang ditekankan Budi Arie adalah pernyataannya mengenai potensi percepatan sebelum 2029 tidak berkaitan dengan Jokowi, meskipun saat pernyataan itu disampaikan dirinya duduk di samping Presiden ke-7 RI tersebut.