"Satu peretas kini dapat menyerang ribuan perusahaan dan individu sekaligus. Jenis serangannya tetap sama menggunakan ransomware, phishing, social engineering tetapi dengan daya rusak dan kecepatan yang digandakan oleh AI," ujar Patrick.
Patrick menjelaskan pelaku kejahatan siber memiliki keleluasaan untuk memanfaatkan model AI dengan biaya relatif rendah, termasuk menjalankannya secara lokal di komputer mereka.
Oleh karena itu, sistem pertahanan siber juga perlu memanfaatkan AI agar mampu menghadapi pola serangan siber yang juga menggunakan AI.
Selain memperkuat pertahanan, Patrick menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran keamanan siber di kalangan masyarakat. Menurut dia, manusia masih menjadi salah satu titik rentan dalam sistem keamanan digital.