Dari 18 pekerja yang terlibat, sebagian merupakan penyandang disabilitas yang ikut mengambil peran dalam proses produksi.
Sementara, Batik Jinggar, Yogyakarta, UMKM binaan yang dikelola Vitalia Noor Darmaningsih, tidak hanya mengembangkan batik sebagai produk fesyen, tetapi juga menghadirkan inovasi melalui motif dan desain.
Dengan omzet sekitar Rp100 juta per bulan, Batik Jinggar melibatkan delapan tenaga kerja, termasuk dua penyandang disabilitas.
Sementara di Riau, Canting Batik Tulis Riau yang dikelola Novita Hermawan mengembangkan batik tulis dengan mengangkat kekayaan budaya daerah.
Usaha ini mencatat omzet sekitar Rp150 juta per bulan dan melibatkan delapan pekerja, lima di antaranya merupakan penyandang disabilitas.
Upaya membuka ruang berkarya bagi penyandang disabilitas juga dilakukan melalui program Sriekandi Patra di Boyolali, Jawa Tengah.