Keterbatasan alat panen dan sulitnya mencari tenaga kerja membuat proses panen membutuhkan waktu hingga beberapa pekan.
Sebelumnya, biaya panen mencapai Rp150 ribu per rantai. Namun, dalam kondisi saat ini, petani dan pekerja memilih sistem bagi hasil dengan pembagian masing-masing 50 persen dari hasil panen.
βKalau tidak menggunakan sistem bagi hasil, padi kami terancam membusuk begitu saja karena tidak ada yang sanggup memanennya,β ujarnya.
Menurut Koordinator Kecamatan (Korcam) Kelompok Tani Merdeka ini, areal persawahan yang terdampak dikelola empat kelompok tani dengan luas masing-masing sekitar 25 hektare, dan jumlah petani lebih dari 100 orang.
Sebelum padi terendam banjir, Sugiono mengaku telah berkoordinasi dengan petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk mengupayakan ketersediaan alat panen sebelum banjir mencapai persawahan.
Petani juga sempat bergotong royong memperkuat tanggul seadanya, tetapi derasnya aliran air tidak mampu dibendung.
Sementara itu, Datok Penghulu Desa Teluk Halban, Abdullah Boyak mengatakan genangan air mulai surut, tetapi sebagian besar persawahan masih terendam karena air belum dapat mengalir keluar secara optimal.