NADIKABAR.COM — Petani mangga asal Filipina mempelajari teknik pengendalian lalat buah secara berkelompok yang diterapkan petani Indonesia di Jawa Barat, sebagai bagian dari kerja sama peningkatan produktivitas dan daya saing komoditas mangga kedua negara.
Kegiatan tersebut difasilitasi Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) bersama Kementerian Pertanian melalui kunjungan studi pada 12–15 Oktober 2026 ke perkebunan dan fasilitas pengolahan mangga di Majalengka dan Cirebon, Jawa Barat.
"Petani Indonesia menginspirasi saya dengan bagaimana mereka, secara kolektif sebagai satu tim yang solid, berhasil mengendalikan serangan lalat buah," kata perwakilan asosiasi petani Filipina Frianina Resplandor dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Kamis.
Kunjungan tersebut melibatkan 12 anggota delegasi Filipina yang terdiri atas petani, perwakilan Departemen Pertanian Filipina, serta FAO Filipina untuk mempelajari pengendalian hama dan pengolahan mangga secara berkelanjutan.
Delegasi mempelajari metode pengendalian hama berbasis wilayah (area-wide management) yang diterapkan petani mangga di Majalengka, salah satu daerah penghasil mangga gedong gincu.
Melalui metode tersebut, petani melakukan pengendalian lalat buah secara bersama-sama dalam satu wilayah geografis, bukan hanya menangani serangan hama secara individual di lahan masing-masing.
Pendekatan tersebut diterapkan dengan dukungan tenaga ahli teknis dan pemerintah serta mengurangi penggunaan pestisida, sehingga pengendalian hama dapat dilakukan secara lebih terjangkau dan berkelanjutan.
Selain pengendalian hama, delegasi Filipina mempelajari pengolahan mangga berkualitas lebih rendah menjadi produk bernilai tambah untuk mengurangi susut pangan, melindungi pendapatan petani, serta membuka peluang usaha bagi perempuan dalam kegiatan pascapanen.