Sementara itu, pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan pembelajaran dari Filipina untuk mengembangkan penanganan pascapanen dan sistem irigasi guna meningkatkan daya saing sektor mangga nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi mangga nasional pada 2025 mencapai 3,01 juta ton, turun sekitar 8,87 persen dibandingkan produksi 2024 sebesar 3,30 juta ton.

Dari jumlah tersebut, Jawa Barat menghasilkan sekitar 424.833 ton mangga pada 2025 atau setara 14,12 persen produksi nasional, menunjukkan peran provinsi tersebut dalam pengembangan komoditas mangga Indonesia.

Di sisi perdagangan, FAO mencatat nilai ekspor mangga Indonesia pada 2025 mencapai 1,1 juta dolar AS atau sekitar Rp19,69 miliar.

Sebaliknya, nilai impor mangga Indonesia tercatat sebesar 2,32 juta dolar AS atau sekitar Rp41,52 miliar pada tahun yang sama, sehingga penguatan kualitas produk dan akses pasar masih menjadi tantangan bagi komoditas tersebut.

Adapun Filipina memproduksi sekitar 764.000 ton mangga pada 2024. Komoditas itu menjadi buah ekspor terbesar ketiga di negara tersebut dan menopang mata pencaharian sekitar 2,5 juta petani.

Melalui pertukaran pengetahuan tersebut, FAO berharap praktik pengendalian hama, pengolahan pascapanen, dan pemanfaatan teknologi dapat diterapkan oleh petani kedua negara untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi kehilangan hasil, serta memperluas peluang pasar.