NADIKABAR.COM — Petani di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air minim di lahan sebagai dampak kekeringan, dengan menerapkan sistem tumpangsari palawija dan tembakau.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Pacitan Sugeng Santoso, Selasa, mengatakan, sebagian petani memilih menanam palawija atau tembakau di lahan dengan pasokan air irigasi terbatas, sedangkan lahan yang tidak memiliki sumber air sementara dibiarkan bera.
“Ada yang beralih ke palawija atau tembakau. Atau dibiarkan bera yang memang tidak ada airnya,” kata Sugeng saat dikonfirmasi di Pacitan.
Ia mengatakan, berdasarkan laporan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), terdapat sekitar 0,1 hektare lahan pertanian yang mengalami puso di Kecamatan Ngadirojo akibat keterbatasan air.
Namun, menurut dia, kondisi tersebut belum berdampak luas terhadap areal persawahan di Pacitan. Sejumlah petani masih dapat menanam padi dengan memanfaatkan sumber air dari jaringan irigasi perpompaan.