NADIKABAR.COM — Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) Bali menyatakan Bali sedang mengarahkan sektor pariwisata agar beralih dari segi kuantitas ke kualitas di masa depan demi memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.
"Kita di Bali sedang di persimpangan jalan antara kuantitas dan kualitas, dan kita sudah sepakat ke depannya akan menuju kualitas, lebih inklusif, banyak melibatkan masyarakat, dan tentu lebih berkualitas bahkan lebih regenerative lagi," kata Ketua PHRI Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace.
Pernyataan itu disampaikan Cok Ace dalam The 6th Global Conference on Entrepreneurship and Economy in an Era of Uncertainty (EEEU) di Kampus Politeknik Negeri Bali (PNB), di Kabupaten Badung, Rabu.
Ketua PHRI Bali menjabarkan bahwa industri pariwisata tidak lagi bisa diukur semata-mata secara kuantitatif seperti jumlah kunjungan, kamar hotel, tingkat hunian, penerbangan, ataupun angka pengeluaran semata.
Ia menekankan bahwa fokus utama industri harus bergeser dari volume ke nilai, dari konsumsi ke kontribusi, serta dari pariwisata massal menuju pariwisata yang bertanggung jawab.
Menurut Mantan Wagub Bali itu, destinasi wisata seharusnya tidak hanya bertanya berapa banyak turis yang datang, tetapi seberapa besar nilai dan manfaat yang diciptakan bagi perekonomian serta komunitas lokal.
"Kalau kita bicara tentang kualitas, kita tidak bicara lagi tentang berapa jumlah wisatawan, berapa jumlah kamar, berapa okupansi," ucapnya.
Yang paling ditekankan saat ini adalah apa benefit yang dirasakan oleh masyarakat, apakah mereka merasakan langsung keuntungannya, serta apakah ada rasa hormat terhadap budaya dan keseimbangan lingkungan.