Menag mendesak para pemimpin dunia untuk mulai mengadopsi "bahasa agama" sebagai mekanisme inti dalam hubungan internasional. Menurutnya, kerangka spiritual mampu mengurangi permusuhan psikologis yang mengakar dalam, di saat manuver politik dan militer konvensional sering kali menemui jalan buntu.

Sebagai bukti konkret, Menag memaparkan model pluralisme dan harmoni kehidupan Indonesia sebagai studi kasus bagaimana keberagaman dapat dikelola untuk menjaga stabilitas dan kerukunan sehari-hari.

Penguatan gagasan ini semakin menegaskan peran aktif Indonesia dalam mendorong moderasi beragama (Wasaแนญiyyah Islam) dan harmoni lintas batas di tingkat global.

Gagasan diplomasi praktis yang disampaikan Menag mendapat sambutan dan penguatan dari para pemimpin agama dunia yang hadir.

Kardinal Matteo Zuppi selaku Ketua Konferensi Waligereja Italia mendukung pandangan mengenai urgensi menghilangkan pola pikir yang kaku, agresif, atau penuh konflik.