Menurut dia, Siti ditandu sampai 10 kilometer lantaran kelurganya memilih untuk berobat ke Garut yang dinilai lebih dekat dibandingkan harus dibawa ke rumah sakit di Cianjur atau Bandung.
"Kalau Siti dibawa ke Garut karena dari segi jarak lebih dekat ke sana. Langsung ke rumah sakit," kata dia.
Namun, untuk Erik dibawa ke puskesmas Cidaun dan ke rumah Sakit di Bandung, sehingga keluarga cukup berjalan dan menandunya sejauh 3 kilometer.
"Meskipun lebih dekat, tetap saja harus ditandu berkilo-kilo meter untuk bisa sampai ke titik penjemputan mobil," kata dia.
Dia menjelaskan, pihak desa terkendala anggaran untuk bisa membangun jalan. Alokasi anggaran yang ada tidak dapat diperuntukan seluruhnya ke pembangunan jalan.
"Saat anggaran masih Rp 1 miliar. Alokasi untuk jalan hanya 20 persen. Sedangkan jalan desa yang rusak sangat banyak. Ditambah sekarang anggaran terkena efisiensi, jadi lebih sulit lagi. Makanya sudah jadi hal yang sering terjadi warga sakit ditandu untuk berobat," kata dia.
Menurut dia, kondisi tersebut juga membuat ongkos berobat menjadi tinggi. Bahkan sedikitnya keluarga harus menyiapkan Rp 1 juta untuk ongkoh kendaraan ke rumah sakit.
"Keluarga Erik sekali berangkat berobat itu habis Rp 1 juta. Kalau bolak-balik bisa habis lebih dari Rp 2 juta, belum termasuk biaya makan dan berobatnya," kata dia.