Suroso Isnandar mengatakan bahwa untuk 10 tahun ke depan, PLN memiliki agenda besar, yakni transisi energi. PLN menjalankan transisi dari sistem kelistrikan berbasis energi fosil ke sistem berbasis energi terbarukan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.

​"Dan ini sangat kaya akan teknologi. Selama 10 tahun ke depan, demi mendorong transisi energi, kami harus membangun kapasitas pembangkit listrik tambahan sebesar 69,5 gigawatt. Ini belum memperhitungkan gelombang permintaan dari pusat data. Saat ini permintaan listrik untuk pusat data sudah mencapai 20 gigawatt. Jadi di luar 69,5 gigawatt tadi, jika ingin memenuhi kebutuhan pusat data, kami harus membangun 20 gigawatt lagi," katanya pula.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mendorong pengembangan kawasan Batam, Karimun, dan Bintan, sebagai hub pusat data atau data center baru di Indonesia.

Menurut dia, rencana tersebut diarahkan untuk menangkap peluang investasi ekonomi digital, sekaligus mengoptimalkan ketersediaan air dan pengembangan energi baru terbarukan.