NADIKABAR.COM — Presiden Prabowo Subianto berencana mengubah nama Badan Narkotika Nasional (BNN) menjadi Badan Nasional Penanggulangan Narkotika (BNPN).
Rencana itu diungkapkan oleh Presiden saat acara penyerahan uang dan lahan hasil sitaan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) di Kompleks Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Selasa.
"BNN, Badan Narkotika (Nasional) ya, yang nanti akan kita perbaiki namanya (menjadi) Badan Nasional Penanggulangan Narkotika," kata Presiden di hadapan sejumlah pejabat negara dan jaksa-jaksa di Kompleks Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Selasa.
Dalam acara tersebut, Prabowo memuji kinerja BNN yang telah berhasil menangkap penyelundupan narkotika dari luar negeri serta memberantas jaringan peredaran narkotika.
"(BNN) juga telah berhasil memberantas puluhan jaringan-jaringan narkoba, puluhan kampung-kampung narkoba. Rupanya di Indonesia ini ada kampung narkoba. Kalau ada petugas masuk, petugas yang diserang. Sudah ada beberapa petugas kepolisian yang mati mau tertibkan narkoba," ujar Presiden.
Menurut Prabowo, tantangan itu tidak hanya dialami oleh Indonesia dan oleh karenanya, pemerintah beserta aparat akan bekerja lebih keras menindak pelanggaran-pelanggaran hukum yang mengancam nyawa rakyat Indonesia.
Presiden dalam waktu yang sama juga mengeluarkan kembali peringatan kepada mereka-mereka yang masih melanggar aturan.
"Sekarang saya katakan dengan contoh yang dirintis oleh Satgas PKH, lembaga-lembaga lain ikut, perusahaan-perusahaan negara sudah mulai membersihkan diri, yang tidak mau membersihkan diri, tunggu waktunya saja. Karena, kita tidak akan berhenti. Kita tidak akan ragu-ragu. Lebih baik saudara bersihkan diri, tertibkan diri, pengakuan dosa, cepet-cepet lapor, jadi saudara bisa menjadi justice collaborator," katanya.
Namun, Presiden menegaskan jika mereka-mereka yang telah diperingatkan itu memilih untuk tidak bertaubat, maka negara tidak akan berkompromi.
"Kalau mau main-main taktik, perlawanan diem-diem, deep state, pura-pura patuh tetapi menghalangi, sabotase dari dalam, kita bukan bodoh. Saya menahan diri, saya memberi kesejukan, tetapi saya kira kita sudah dalam tahap sudah tidak mau lagi, terlalu banyak kompromi," kata Prabowo.