Sebelumnya, Bahlil mengaku kaget ada pihak-pihak yang menuduhnya ikut terlibat dalam pertemuan bersama beberapa petinggi Parpol selama tiga jam sebelum empat jenderal polisi ditangkap dalam kasus penyadapan terhadap kepala negara.
Bahlil membantah terkait tuduhan tersebut. Ia mengatakan bagaimana terlibat dalam kelompok yang melakukan penyadapan terhadap Prabowo sementara dirinya juga ikut tersadap.
"Gimana saya ikut penyadapan Presiden, saya saja disadap,"ujarnya saat pidato di acara pelantikan pengurus DPD Golkar Maluku, Sabtu (7/11).
Bahlil lantas mendukung penuh Bareskrim Polri mengusut tuntas terkait kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
"Yang pertama mengalir dengan proses penyadapan kepala negara dan pejabat yang lain maupun tolok masyarakat kita meminta kepada aparat penegak hukum melakukan penyelidikan tuntas, transparan agar lebih terang benderang,"tuturnya.
Ia pun heran kenapa dalam kondisi seperti begini dan sebuah negara demokrasi masih ada kelompok alias pihak-pihak yang memanfaatkan ruang demokrasi tersebut. Ia bilang demokrasi tersebut penting namun demokrasi yang bermartabat.
"Karena kita demokrasi itu penting tapi juga demokrasi yang bermartabat jangan semua hak ngomong yang tidak benar, dan itu adalah fitnah, itu ngga bagus, kita mau saling menghargai, silakan kalau benar enggak apa-apa, karena itu kita akan minta polisi akan mengecek untuk melakukan pengusutan,"imbuh dia.
Bahlil menyebutkan informasi yang dibuat-buat atau mengarang dan belum tahu datang dari mana langsung menyebutkan Bahlil ikut terlibat dalam kelompok tersebut.
Awalnya, dia tidak mau ambil pusing dengan informasi yang beredar bahwa dalam pertemuan tersebut turut dihadiri oleh Bahlil. Ia baru percaya dengan informasi tersebut setelah tiba di Ambon, Maluku untuk melantik pengurus DPD Partai Golkar Maluku.