NADIKABAR.COM — Badan pengawas kepolisian Prancis membuka 36 kasus penyelidikan terkait tindakan aparat sejak awal berlangsungnya aksi protes oleh para siswa sekolah menengah atas (SMA) di negara tersebut, menurut laporan stasiun televisi BFMTV, Selasa (13/10).

Di Lyon, sebanyak 11.000 orang turun ke jalan, dengan sembilan orang ditangkap dan lima orang terluka, termasuk empat anggota polisi bersenjata atau gendarmerie, menurut keterangan otoritas di Prefektur Rhone.

Pihak prefektur tersebut menyatakan ratusan orang menyerang fasilitas umum, tempat usaha, dan pasukan keamanan dengan melemparkan benda-benda tajam selama aksi unjuk rasa tersebut.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez membela penangkapan yang dilakukan polisi dalam sidang parlemen. Menurut Nunez, petugas memang perlu turun tangan ketika unjuk rasa berubah menjadi kekerasan atau perusakan.

"Ketika unjuk rasa berlangsung secara damai, tidak ada penangkapan oleh polisi. Namun, ketika terjadi tindakan kekerasan, barulah ada penahanan," kata Nunez.

Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray menyebutkan 88.000 siswa SMA telah berpartisipasi dalam platform konsultasi pemerintah untuk mengumpulkan aspirasi dari kaum muda.

Sementara itu, pemimpin serikat pekerja CGT, Sophie Binet, menyerukan aksi mogok kerja dan demonstrasi nasional pada 5 November nanti untuk menuntut kenaikan upah, penambahan dana untuk layanan publik, serta penghematan anggaran.

Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan