NADIKABAR.COM — Presiden Iran Masoud Pezeshkian melakukan pertemuan terbaru dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela KTT Forum Negara-negara Eksportir Gas di Moskow. Dalam pertemuan itu, Pezeshkian mengatakan kepada Putin bahwa masalah-masalah di kawasan dapat diselesaikan tanpa Amerika Serikat (AS).
"Saya meyakini kita mampu menyelesaikan masalah-masalah kita di kawasan ini, tanpa bergantung pada Amerika Serikat," kata Pezeshkian dalam pertemuan dengan Putin, seperti dilansir AFP, Rabu (28/10/2026).
"Perdagangan kita terus berkembang dan tumbuh dari hari ke hari. Tindakan AS di kawasan ini justru mempermudah kita untuk melangkah menuju ke multilateralisme yang lebih luas, dan memperkuat kerja sama dengan Anda dan negara-negara lainnya yang juga terkena sanksi sepihak dari AS," cetusnya.
Dalam pertemuan pada Selasa (27/10) waktu setempat itu, Putin mengatakan bahwa dirinya membahas mengenai perang antara Iran dan AS dengan Pezeshkian, serta menyatakan harapan agar situasi dapat membaik.
"Tadi kita sempat berbincang empat mata mengenai situasi di kawasan ini -- situasi yang tidak diragukan lagi dapat menimbulkan kekhawatiran," ujarnya, sembari menambahkan bahwa dirinya mengharapkan situasi akan "berkembang ke arah yang positif".
Pezeshkian menyatakan keyakinannya bahwa terdapat keinginan dari kedua negara untuk memperluas kerja sama di bidang sains, industri, budaya, keamanan, dan militer.
Moskow berupaya menjadi penengah untuk membantu mengakhiri perang di Timur Tengah, yang berkecamuk sejak 28 Februari lalu menyusul serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran.
Pekan lalu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov mengunjungi Iran untuk pertama kalinya sejak perang perang. Lavrov menyatakan bahwa upaya Rusia "dimaksudkan untuk mencegah kembalinya perang berskala besar" di tengah kebuntuan negosiasi antara Teheran dan Washington.
Sementara Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Rusia dan Iran "belum pernah" bekerja sama sedekat ini.
Negosiasi antara Iran dan AS terhenti selama berbulan-bulan, dengan Washington dan Tel Aviv terus saling melontarkan ancaman untuk kembali menyerang Teheran.