"Mungkin karena isunya tabu, kita berada di budaya yang tidak terlalu nyaman untuk membicarakan hal-hal seperti itu. Jadi ketika terpapar berita yang enggak nyaman, biasanya kita menghindar," ujarnya.
Prilly mengatakan kondisi tersebut perlu diikuti dengan respons nyata karena anak-anak belum memiliki kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri.
"Padahal harus ada aksi nyata ketika membaca berita tentang anak kecil yang tidak punya kontrol diri untuk melindungi diri mereka sendiri," katanya.
Ia juga menyoroti pemberitaan mengenai kasus kekerasan terhadap anak yang dapat menjadi perhatian publik hanya dalam waktu singkat ketika kasus tersebut viral.