Sebagai penyanyi yang tumbuh besar di Jakarta, Kanaya sempat menghadapi tantangan ketika harus membawakan lagu-lagu berbahasa Sunda.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia semakin terbiasa membawakan lagu-lagu tersebut. Kemampuan Kanaya dalam membawakan lagu Sunda kemudian menjadi salah satu ciri penampilannya bersama Emka 9.
Selama bergabung dengan Emka 9, Kanaya Whu kerap membawakan lagu-lagu ciptaan Dedi Mulyadi.
Sejumlah lagu yang pernah dinyanyikannya tim redaksi lain Rindu Purnama, Karembong Koneng, Prabu Siliwangi, Dangiang Galuh Pakuan, Indung, Memanen Cinta, Kaasih Indung, Lungse, Lampah, dan Rubuh.
Bagi Kanaya, membawakan lagu-lagu tersebut bukan sekadar persoalan teknik vokal. Ia juga harus memahami cerita dan makna yang terkandung dalam setiap lagu.
Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri karena sejumlah lagu memiliki nada tinggi serta menggunakan bahasa Sunda dengan makna yang cukup dalam.
Sebagai vokalis Emka 9, Kanaya Whu cukup sering terlihat mendampingi kegiatan Dedi Mulyadi.
Ia hadir dalam berbagai agenda, mulai dari acara resmi hingga kegiatan seni dan budaya yang digelar di sejumlah wilayah Jawa Barat.
Sosok Kanaya pun semakin dikenal oleh masyarakat yang mengikuti berbagai kegiatan Dedi Mulyadi dan Emka 9.
Kehadirannya bukan hanya sebagai penyanyi, tetapi juga bagian dari pertunjukan musik yang mengiringi berbagai agenda kebudayaan tersebut.
Salah satu penampilan terakhir Kanaya Whu di depan masyarakat Jawa Barat terjadi dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 RI pada 17 Agustus 2026.
Saat itu, Kanaya bersama kru Emka 9 lainnya menjadi pengiring musik dalam iring-iringan kereta kencana yang membawa Bendera Merah Putih dari Gedung Pakuan menuju Gedung Sate.
Kanaya tampil mengenakan pakaian veteran dan membawakan lagu "Melati di Tapal Batas" karya Ismail Marzuki.
Dalam cuplikan video yang dibagikan Humas Jabar, Kanaya terlihat energik ketika menyanyikan lagu tersebut.