Program Pintar Sekampung diadakan terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran di lembaga PAUD tersebut.
"Jadi, mereka-mereka yang pengin belajar tapi punya keterbatasan ekonomi, kumpulin saja dari bank sampah, nanti saldonya dikonversi ke situ," ungkapnya.
Selain kegiatan pembelajaran, saldo bank sampah juga ternyata banyak digunakan untuk perayaan 17 Agustus setempat dan pembagian sembako lebaran.
"Warga-warga yang lain turnover-nya lumayan tinggi karena mereka juga kumpulin untuk kebutuhannya. Jadi, bisa juga baru setor, dia sudah target nih, misalnya sudah Rp200 ribu belum ya? Rp200.000 diambil untuk beli token, kemudian juga untuk kebutuhan hari-harinya," terang Gitawidya.
Ia mengatakan, bank sampah ini berkembang dari hanya memiliki 11 nasabah menjadi 139 nasabah dalam waktu dua tahun. Gitawidya pun melihat adanya perubahan perilaku masyarakat dalam waktu dua tahun tersebut.