"Harapannya tidak ada yang tertular dari keluarga, sehingga semuanya tetap sehat. Alhamdulillah, bisa cek kesehatan gratis melalui kegiatan ini," ungkap Dina dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026).

Warga lainnya, Nurhamidah, mengaku memperoleh informasi mengenai kegiatan tersebut dari kader kesehatan desa. Dia menceritakan pernah mengalami keluhan sakit di bagian dada dan batuk yang sempat mereda, tetapi kemudian kembali berulang.

Nurhamidah berharap kegiatan skrining TBC dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga penanganan dapat segera dilakukan.

"Kalau bisa, ketika penyakitnya diketahui lebih awal, penanganannya juga bisa lebih cepat," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Tahunan Pramita Sukti Setyarini mengatakan penelusuran atau pelacakan (tracing) TBC penting dilakukan untuk menemukan kasus yang belum terdeteksi, termasuk pada orang yang tidak menunjukkan gejala. Menurutnya, pemeriksaan aktif diperlukan agar masyarakat yang berisiko terinfeksi TBC dapat segera menjalani pemeriksaan dan memperoleh penanganan sesuai hasil diagnosis.

"Dengan adanya tracing (pelacakan) ini, kita bisa menjaring pasien-pasien yang memiliki gejala TBC, tidak bergejala, maupun yang memiliki riwayat kontak. Melalui kegiatan ini, kita bisa melihat gambaran paru-paru melalui pemeriksaan rontgen untuk membantu mendeteksi kemungkinan TBC," ujar Pramita.