NADIKABAR.COM — Bank Sentral Selandia Baru dinilai terlalu lambat dalam menarik stimulus kebijakan moneter setelah perekonomian pulih lebih kuat dari perkiraan pasca-pandemi COVID-19, menurut sebuah tinjauan independen yang dirilis pada Selasa (22/9).

Laporan evaluasi yang dirilis oleh Menteri Keuangan Selandia Baru Nicola Willis tersebut mengkaji keputusan-keputusan kebijakan moneter sejak 1 Januari 2020 hingga 31 Desember 2022, dan menemukan respons awal bank sentral terhadap pandemi itu tepat dan efektif, namun stimulus kebijakan moneter telah dipertahankan terlalu lama.

Tinjauan tersebut dilakukan oleh Profesor Athanasios Orphanides dari Massachusetts Institute of Technology di Amerika Serikat dan mantan Wakil Gubernur Bank Sentral Selandia Baru David Archer.