NADIKABAR.COM — Sejumlah proyek energi terbarukan di Bali disorot karena mangkrak dan tidak optimal. The Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia mengingatkan proyek energi terbarukan jangan hanya menjadi showcase (pamer) saat ada acara besar.
Koordinator Wilayah Timur SIEJ, Rofiqi Hasan, menyoroti komitmen pemerintah terhadap proyek energi terbarukan yang diresmikan secara seremonial, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
"Bali sering dijadikan showcase untuk isu-isu perubahan iklim ya. Nah kita harapkan yang diresmikan Pak Prabowo kemarin itu bukan showcase-nya juga ya, tapi memang akan berkelanjutan gitu," kata Rofiqi saat Forum Group Discussion (FGD) terkait perubahan iklim di Denpasar, Jumat (11/9/2026).
Dalam diskusi tersebut, sejumlah proyek PLTS yang mangkrak turut dibahas. Salah satunya PLTS di Kubu, Karangasem, berkapasitas 1 MWp dengan nilai anggaran Rp 26 miliar menggunakan APBN. PLTS yang berada di lahan seluas 1,2 hektare itu dipenuhi rumput liar dan sejumlah panel rusak.
Selain PLTS di Kubu, PLTS yang berada di Tahura Denpasar dan diresmikan Presiden Joko Widodo saat agenda G20 juga turut disebut. Kemudian, PLTB Puncak Mundi di Nusa Penida, Klungkung, sebagai proyek percontohan energi terbarukan juga tidak optimal.